Selasa, 17 Agustus 2010

denting piano

Dalam mimpi-mimpi malamku 
sering kulihat wujud hidupmu 
dan menyaksikan jemari lentik putihmu menari diatas piano.

Atau kulihat dirimu berdiri disenja samar, 
menatap langit pucat 
dan mengubah warnanya dengan mata yang memancarkan indahnya.

Sirna

Seperti apa arah mata anginku,
Menggema hanya ingat tentang sepi
Mengguman hanya ingat tentang rindu
Merayu tanpa ingat lidah ini kaku..

Tak bisa terbayangkan..
Tak bisa terelakan..
Mengunci hati hanya untuk satu rasa
Memenjara rasa agar hati tak sirna

Begitu sajakah?
Begini hanyalah?

Tertunduk terus diam
Seakan mati
Pergi
Entah

Gelap sempat merayap hinggapi
Namun seua tetap terkunci
Bilah - bilah sapa juga sampai memenuhi
Namun tak jua menutupi